Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Sabtu, 16 Februari 2013

Fakta Unik Mengenai Adzan

Fakta Unik Mengenai Adzan

 

 



Setiap hari suara adzan selalu berkumandang, terlebih bagi negara yang mayoritas umatnya beragama islam. Apabila telah dikumandangkan, wajib hukumnya umat muslim di dunia untuk melaksanakan sholat. Dibalik merdunya suara Adzan yang berkumandang, ada keistimewaan tersendiri dari adzan, sehingga bagi muadzin (orang yang menyerukan azan) sekalipun, Allah telah menjanjikan pahala kepadanya. Di balik keistimewaannya, adzan juga menyimpan fakta unik.
1. Kalimat penyeru yang mengandung kekuatan dahsyat
Begitu adzan berkumandang, kaum muslim yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah akan segera bergegas ke masjid menunaikan salat. Tanpa sadar syaraf akan memerintahkan tubuh untuk segera menunaikan salat.
Simpul-simpul kesadaran psiko-religius dalam otak umat muslim mendadak bergetar hebat, terhubung secara simultan, dan dengan totalitas kesadaran seorang hamba (abdi). Seakan suara khas adzan telah tertanam dalam alam bawah sadar setiap muslim. Sehingga ketika mendengarnya, indra-indra tubuh mereka lalu bergerak untuk salat. Suara adzan seakan telah menyentuh fitrahnya untuk beribadah.
2. Banyak non-muslim yang menjemput hidayah setelah mendengar adzan
Banyak kisah perjalanan hidup kaum mualaf hingga akhirnya menemukan hidayah yang seringkali menyentuh nurani. Berbagai sebab mereka akhirnya masuk Islam. Salah satu sebab yang sering terjadi adalah suara adzan yang didengar mereka, telah menggetarkan hari dan kesadaran terdalam untuk mengucap syahadat. Seakan fitrah Islam dalam diri mereka terbangkitkan melalui alunan adzan itu.
Kementerian Urusan Agama Turki pernah melansir sedikitnya 634 orang telah masuk Islam selama tahun 2011, termasuk 467 wanita, yang berusia rata-rata 30 sampai 35 tahun, dan berasal dari kebangsaan yang berbeda mulai dari Jerman, Maldiva, Belanda, Perancis, Cina, Brasil, AS, Rumania dan Estonia. Mereka adalah turis-turis yang tengah melancong ke Turki.
Di kota Kayseri Turki sendiri, sedikitnya 14 orang telah masuk islam selama empat tahun terakhir, termasuk 10 wanita. Grand Mufti kota Kayseri, Syaikh Ali Marasyalijil menyebutkan umumnya mereka masuk Islam setelah tersentuh mendengar alunan adzan.
Rapper papan atas Amerika Serikat, Chauncey L Hawkins yang populer disapa Loon bahkan mengakui masuk Islam setelah mendengar suara adzan saat dirinya tengah berkunjung ke Abu Dhabi, Dubai.
Masih banyak lagi kisah menyentuh mualaf yang masuk Islam setelah mendengar alunan kumandang adzan.
3. Perintah adzan datang melalui mimpi
Pada awalnya Rasulullah SAW tidak tahu dengan cara yang digunakan untuk mengingatkan umat muslim bila waktu salat tiba. Ada sahabat yang menyampaikan usul untuk mengibarkan bendera, menyalakan api di atas bukit, meniup terompet, dan membunyikan lonceng. Semua saran itu dianggap kurang cocok.
Hingga datanglah sahabat, Abdullah bin Zaid yang bercerita jika dia mimpi bertemu dengan seseorang yang memberitahunya untuk mengumandangkan adzan dengan menyerukan lafaz-lafaz adzan seperti saat ini. Lalu dikabarkanlah perihal mimpi ini kepada Rasulullah. Umar bin Khathab mendengar hal itu dan ternyata dia juga mengalami mimpi yang sama. ”Demi Tuhan yang mengutusmu dengan Hak, ya Rasulullah, aku benar-benar melihat seperti yang ia lihat (di dalam mimpi)”. Lalu Rasulullah bersabda: ”Segala puji bagimu.”
Rasulullah menyetujui untuk menggunakan lafaz-lafaz adzan itu sebagai tanda waktu salat tiba.
4. Dikumandangkan saat peristiwa-peristiwa bersejarah

Selain digunakan untuk menandakan waktu salat tiba, adzan juga dikumandangkan pada momen-memen penting dan bersejarah. Misalnya ketika seorang bayi lahir. Selain itu, saat peristiwa penting dalam Islam terjadi, adzan juga berkumandang. Ketika pasukan Rasulullah berhasil menguasai Makkah dan berhala-berhala di sekitar ka’bah dihancurkan, Bilal bin Rabbah mengumandangkan adzan dari atas Ka’bah.
Peristiwa lain, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan pasukan Ottoman yang mengakhiri Kekaisaran Romawi Timur, beberapa perajurit Ottoman masuk ke dalam lalu mengumandangkan adzan sebagai tanda kemenangan mereka.
5. Miliaran kali dikumandangkan sejak 14 abad lalu
Adzan dikumandangkan 5 kali sehari. Semenjak adzan pertama kali dikumandangkan 14 abad lalu hingga saat ini, tak dapat dihitung berapa juta kali adzan telah berkumandang.
Anggaplah setahun 356 hari. Jika 14 abad adalah 1400 tahun, maka 1400 tahun x 356 hari = 511000 hari. Dalam satu hari, adzan 5x dikumandangkan. Sehingga sedikitnya adzan telah dikumandangkan 2.555.000 kali. Jika dalam satu hari ada 1 juta muslim di dunia yang mengumandangkan adzan, jadi adzan telah dikumandangkan sebanyak 2.555.000.000.000 kali. Subhanallah!
6. Tak henti dikumandangkan hingga kiamat
Bumi berbentuk bulat. Ini menyebabkan terjadi perbedaan waktu solat pada setiap daerah. Ketika adzan telah selesai berkumandang di satu daerah, maka selanjutnya adzan berkumandang di daerah lain.
Satu jam setelah adzan selesai di Sulawesi, maka adzan segera bergema di Jakarta, disusul pula Sumatera. Dan adzan belum berakhir di Indonesia, maka ia sudah dimulai di Malaysia. Burma adalah di baris berikutnya, dan dalam waktu beberapa jam dari Jakarta, maka adzan mencapai Dacca, ibukota Bangladesh. Dan begitu adzan berakhir di Bangladesh, maka ia ia telah dikumandangkan di barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.
Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit, dan dalam waktu ini, adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak.
Perbedaan waktu antara Bagdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam, dan pada saat ini seruan shalat dikumandangkan.
Iskandariyah dan Tripoli (ibukota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan adzan sehingga terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudera Atlantik setelah sembilan setengah jam.
Sebelum adzan mencapai pantai Atlantik, kumandang adzan Zhuhur telah dimulai di kawasan timur Indonesia, dan sebelum mencapai Dacca, adzan Ashar telah dimulai. Dan begitu adzan mencapai Jakarta setelah kira-kira satu setengah jam kemudian, maka waktu Maghrib menyusul.
Begitu seterusnya adzan terus berkumandang di bumi dan tidak pernah berhenti hingga kiamat terjadi. Subahanallah.
Sumber: Fakta Unik Mengenai Adzan
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Tahukah Anda, Waktu Tidur Yang Tidak Diperbolehkan Dalam Islam?


Tahukah Anda, Waktu Tidur Yang Tidak Diperbolehkan Dalam Islam?







Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan. yaitu :

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :
“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).
2. Tidur Sebelum Shalat Isya’
Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).
Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”
Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.”
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Jumat, 15 Februari 2013

Tetap Berdzikir Saat Berinternet


Tetap Berdzikir Saat Berinternet



Oleh: Syaripudin Zuhri


Semoga bermanfa'at,,,,,,




Banyak cara untuk tetap mengingat Allah SWT dimanapun dan kapanpun kita berada, karean memang di mana-mana ada Dia, Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta. Tak ada suatu apun yang terlewat tanpa adanya Dia bersama kita, ini sebuah kesadaran yang perlu menjadi perhatian kita bersama.
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis artikel dengan judul ” Mari Kita ber TOK TOK ” setelah diedarkan… saya berpikir ulang …. rasanya ada yang ” mengganjel ” di hati, rasanya kurang pas, kurang enak, pokonya ada sesuatu yang ” gimana”  gitu, nah untuklah saya menulis artikel ini.
Ini benar-benar salah judul, maunya saya ketika  menulis tulisan tersebut adalah mengajak orang lain atau sahabat-sahabat pembaca,  ketika menulis , membaca, bereselancar di internet, saat mengetik artikel atau apapun kegiatannya yang positif untuk mengingat Allah atau berdzikir kepada Allah yang dikaitkan dengan otak atau akal manusia yang tentu lebih cerdas segala-galanya dari komputer, karena bagaimanapun komputer adalah buatan manusia. Dari berdzikir, berotak atau berakal dihubungkan dengan komputer yang berkaitannya dengan internet yang sedang mengglobal di seluruh dunia.



Nah ketiga hal tadi, yaitu tasbih, otak dan komputer itu, saya gabungkan menjadi kata TOK, dengan maksud agar kita Bertasbih, Berotak ( Berakal ) dan Berkomputer ( Internet ), Namun karena judulnya saya singkat menjadi ” Mari Kita ber TOK-TOK ” jadi terkesan main-main, padahal maksudnya serius. Atau jangan jangan ada yang menyangka… akh judul apaan nih ? Ada-ada saja, judul kok ber TOK TOK, seperti orang yang mengetok pintu ! Maksudnya memang agar orang tergerak untuk bertasbih/berdzikir atau ingat kepada Allah di manapun kita berada, karena apapun yang kita kerjakan tak akan terlepas dari izin Tuhan. Mana buktinya ? Ya sederhana saja, kalau kita tak dizinkan saat mengetik oleh Tuhan, tangan kita bisa saja mendadak lumpuh, tak bisa digerakkan sedikitpun.
Begitu juga akal kita atau otak yang ada di kepala kita, kita memang punya otak, punya akal hingga kita mampu berpikir, mengarang atau menulis apapun dari hasil pikiran kita, namun kalau Tuhan tidak mengizinkannya, niscaya otak kita tak akan berfungsi apapun, lihat saja orang gila, orang gila punya otak, tapi tak punya akal ! Saat berinternetpun tak lepas dari “tangan” Tuhan, kalau Tuhan tak mengizinkan kita berinterkasi melalui internet, bisa saja tiba-tiba komputer kita hang, atau tiba-tiba komputer  kena virus yang mengahapuskan semua file kita atau tiba-tiba saja listrik mati saat kita sedang ngetik artikel untuk di kirim ke majalah, koran atau website, sehingga menjadi gagal total.
Nah karena itulah saya mengajak  semua orang untuk bertasbih atau berdzikir berotak/berakal dan berkomputer/berinternet.Mari tetap berdzikir saat berinternet ” Tujuannya apa ? Paling tidak menjadi “rem” untuk kita semua, karena bagaimanapun internet adalah barang bebas atau netral, yang siapapun dapat menulis dan menyebarkan berita atau artikel,  serta membuat sesuatu yang terkadang sangat vulgar, sangat bahaya bagi keimanan kita. Nah dengan berdzikir saat berinteraksi dengan internet, insya Allah membuat kita waspada dan berhati-hati dan iman kita terjaga.
Coba aja lihat judul-judul yang membuat kita membacanyapun sudah merinding, apa lagi melihat apa yang mau di gambarkan,  wah lebih bahaya lagi. Memang repot, manusia memang tidak sama, niatnyapun sukar ditebak, apa maunya dalam tulisan tersebut? Jangan-jangan hanya untuk mencari populeritas yang terkadang naif, tapi itu memang hak masing-masing orang, tapi sebisa mungkin, kalau kita-kita yang masih mau menjaga keimanan kita masing-masing, sekecil apapun iman yang kita miliki itu sudah suatu modal yang cukup ! Karena bagaimanapun iman adalah “rem” yang sangat pakem. Karena tak  mungkin orang yang mencuri, kalau imannya masih ada di dada, tak mungkin  orang maksiat, kalau iman juga masih ada di hati, dan tak mungkin orang tidak sholat, kalau imannya masih ada !
Kalau ada yang berkata” Saya tetap beriman, walau tidak sholat. Saya tetap beriman walau sering berbuat maksiat “  itu hanya omong kosong, karena iman bukan hanya pengakuan, tapi juga dibenarkan dalam hati dan dilakukan dalam perbuatan, bila hanya pengakuan namanya munafik ! Ya kembali untuk saling mengingatkan diantara kita ketika berinternet, ketika menulis artikel, ketika mengetik, ketika membaca internet, mari tetap berdzikir kepada Allah SWT, karena dengan karuniaNyalah kita dapat ikut dalam arus globalisasi di bidang informasi ini !
Internet yang tak terpikir pada pertengan abad 20,   kini di dekade abad 21 sudah menjarah kemana-mana ke segala penjuru dunia, internet sudah mengglobal, informasi sudah menguasai emosi manusia, bahkan internet sudah membuat manusia” kecanduan” sehingga, bila tak berinternet dalam satu hari saja, seperti ada sesuatu yang hilang, ada yang membuat gelisah tatkala internet tak ada ! Yang lebih repot lagi … bila saat berinternet ria, hampir lupa segala-galanya, apa lagi kalau sedang chatting …. wah susah untuk distop, susah untuk dihentikan.
Nah kalau ini yang terjadi, maka kembali saya mengajak ” Mari berdzikir saat berinternet “, agar kita tak lupa segala-galanya saat berinternet, agar kita ingat kepada Allah SWT yang telah memberikan kita rezeki hingga kita punya komputer, bisa berinternet, bisa menulis dan membaca, punya laptop, atau kalau tak punya komputer atau laptop pribadi, ya masih bersyukur kepadaNya, karena ada warnet di mana-mana, terutama di kota-kota besar, sehingga masih bisa menikmati internet.  Ada yang mengakui,  ketika menulis artikel,  hasil laptop pinjaman, ya tak apa-apa, apa ada larangan menulis artikel dari laptop pinjaman ? Ya masih bersyukur, Alhamdulillah,  masih boleh minjam atau dipinjamkan !
Mari kita bersyukur kepada Allah SWT yang telah menciptakan akal manusia yang mampu membuat internet, Allah SWT yang menjadi sumber segala sumber ilmu, termasuk yang ada di internet. ” Siapa berani bilang bahwa tak ada hubungannya antara internet dengan Tuhan ? ” Kalau ada yang berkata demikian  itu sama juga ketika orang athies yang berkata : ” Apapun yang saya hasilkan adalah hasil kerja saya sendiri, tak ada hubungannya dengan Tuhan ! Nah,  mau kita dibilang Athies ? Tentu saja tidak, makanya mari kita berinternet dengan tetap berdzikir kepadaNya.
Apapun di alam ini tak akan lepas dariNya, karena memang Dia yang menciptakan itu semua asal muasalnya. Dari mana kabel-kabel yang ada di dalam laptop atau di komputer ? Kalaupun ada wifi dimana saat berinternet tak pakai kabel, ayo siapa berani yang mengatakan bahwa itu tak ada hubungannya dengan Tuhan ?
Mau bukti …. ? Wifi laptop atau HP tak akan bisa aktif kalau tak ada gelombang udara yang menghantarkannya, siapa yang menciptakan gelombanmg udara itu ? Allah SWT ! Nah makanya jangan lupa berdzikir kepada Allah SWT saat berinternet, karena saat kita berinternetpun Allah SWT mengetahui apa yang kita lakukan, yang positif maupun yang negatif ! Hati-hati dan waspadalah Dia Maha Mengetahui apapun yang kita lakukan, juga saat kita berinternet.
Jadi tak ada seorang pun di dunia sekarang yang bekerja di kantor-kantor pemerintah atau swasta, di rumah maupun di jalanan, berselancar di internet terus menerus saja berlangsung. Abad ke 21 dan abad-abad mendatang manusia tak akan terlepas dari internet, pengguna internet semakin bertambah di seluruh dunia, bukan lagi puluhan juta, tapi ratusan bahkan bisa milyaran manusia,  namun pertanyaannya, apakah dengan internet manusia semakin dekat kepadaNya atau justru sebaliknya? Semuanya kembali kepada diri masing-masing.
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Sikap Munafik, Sangat Membahayakan dan Terburuk!


Sikap Munafik, Sangat Membahayakan dan Terburuk!

 





Hati yang sakit biasanya dimiliki oleh orang munafik, mereka menyatakan beriman tapi sekadar di lisan, mereka laksanakan kebaikan  termasuk shalat tapi maksudnya adalah untuk mendapatkan pujian orang, karena itu mereka tidak merasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah:8-10)
Karena itu, orang munafik akan mengalami penyesalan yang amat dalam disebabkan keburukan yang mereka sembunyikan di dalam hatinya, Allah SWT berfirman:

فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٌ فَعَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُواْ عَلَى مَا أَسَرُّواْ

 فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ 

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.”  Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS Al-Maidah :52)






SIFAT MUNAFIK



Ada beberapa amalan yang perlu kita jauhi agar selamat dari siksa Allah, sifat-sifat itu adalah sifat kemunafikan yang bisa mematikan hati kita dan mendatangkan murka Allah:

- Menyembunyikan kekafiran

“Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (QS Al-Baqarah:8)
- Menipu Allah
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah:9
- Melakukan kerusakan

“Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (QS Al-Baqarah:11)
- Mengolok-olok orang yang beriman

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah:13)
- Malas melaksanakan shalat

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An Nisa’, 142)
Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang munafik adalah sholat Isya dan sholat Shubuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak. (HR. Bukhari, Muslim)
- Tidak setia dengan orang mukmin

(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. An Nisa’, 141)
- Mengingkari janji

Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.
Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (QS. At Taubah, 75-77)
- Buruk sangka kepada Allah

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”. (QS. Al Ahzab, 12)
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Belajar Menyelesaikan Masalah Dari Aisyah R.a


Belajar Menyelesaikan Masalah Dari Aisyah R.a



  Ummul Mukninin ‘Aisyah tumbuh besar di rumah Rasulullah nan suci. Hal ini sungguh merupakan anugerah yang sangat besar, karena setiap orang yang dididik langsung oleh Rasulullah pada dasarnya akan menjadi guru dan sekolah yang fenomenal. Inilah yang benar-benar terjadi pada diri ibunda kita, ‘Aisyah. Nalar dan pemikirannya dipenuhi dengan konsepsi-konsepsi Islam. Tingkah laku dan sikap ‘Aisyah merupakan bentuk praktis dan implementasi dari konsep-konsep Islam. Maka tidak masuk akal jika ‘Aisyah melakukan suatu perbuatan yang menyalahi pemikiran, konsepsi dan tingkah laku yang sudah mendarah daging pada diri dan akalnya. Sikap seperti ini bukan hanya ada pada diri ‘Aisyah saja, melainkan adalah corak tingkah laku yang ada pada diri sahabat Rasul secara umum. Di situ ditemukan adanya keharmonisan luar biasa antara pikiran dan tingkah laku, yang jarang sekali bertolak belakang dengan Al Quran. ‘Aisyah yang suci -putri dari sahabat Nabi yang jujur- ditimpa musibah paling besar yang mungkin menimpa perempuan bermartabat sepertinya. Ia dituduh berbuat zina. Alangkah berat ujian yang ia terima. Tuduhan itu tidak hanya beredar di kalangan terbatas keluarga dan sahabat dekat, tetapi beredar ke masyarakat dan dibumbui dengan sejumlah propaganda yang licik. Istri seorang Rasul yang sangat disegani sekaligus dicinta oleh ummat dituduh telah melakukan zina. Zina yang dipandang sebagai aib dan dosa besar bagi setiap perempuan, terlebih jika dilakukan oleh istri Nabi, maka hal tersebut sungguh menjadi suatu masalah dan ujian yang berat bagi ‘Aisyah. Hanya orang dengan kepribadian matang, tangguh dan cerdas seperti ‘Aisyah yang dapat menanggung ujian tersebut dan mampu menemukan solusi sehingga dapat melewati cobaan dengan baik. Apa yang dilakukan ‘Aisyah menghadapi persoalan rumit ini? Bagaimana dia menghadapi, melawan, dan mengalahkannya? Tentu wanita muslimah di jaman sekarang pun dapat mengambil hikmah, meneladani sikap dan tindakan ‘Aisyah ketika menghadapi masalah dan ujian yang dihadapinya. Masalah dan Cara Menghadapinya Sebelum membahas lebih lanjut tentang sikap dan cara-cara ‘Aisyah dalam menyelesaikan masalah, ada baiknya mengulas sedikit mengenai definisi masalah. Manusia hidup tentu akan bertemu dengan masalah. Hal tersebut seperti bagian dari skenario yang ditentukan ‎​اَللّهُ baik untuk pembelajaran maupun untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Masalah dapat didefinisikan sebagai perasaan atau kesadaran tentang adanya suatu kesulitan yang harus dilewati untuk mencapai tujuan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kondisi disaat kita berbenturan dengan realitas yang tidak diinginkan. Tanpa sadar kadang masalah yang datang dapat menyita pikiran kita. Disinilah diperlukan sikap dan pengetahuan agar dapat menghadapi masalah dan menemukan solusi yang tepat dan tentunya tidak semakin menjerumuskan kepada masalah lain. Dan yang lebih utama, bagaimana bersikap dan bertindak menghadapi masalah sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah. Terkadang untuk menyelesaikan masalah butuh waktu, namun terkadang masalah dapat selesai dengan cepat. Bagaimanakah ibunda ‘Aisyah menghadapi persoalannya kala itu? Persoalan yang dihadapi ‘Aisyah adalah berita bohong. Para kaum munafik menyebarluaskan isu tentang kasus perzinaan ‘Aisyah dengan Shafwan bin Mu’aththal. Ketika pulang dari sebuah peperangan, ‘Aisyah terlambat dari rombongan. Ia pulang diantar Shafwan dan menaiki untanya. Setelah itu isu tentang perzinaan ini pun menyebar luas, laksana api yang dengan cepat membakar rerumputan kering. Persoalan ‘Aisyah kala itu ada dua hal, pertama, ‘Aisyah mendapati dirinya sendirian karena sudah ditinggal rombongan pasukan. Kedua, ketika isu ini beredar di luar, ia tidak mengetahui bahkan tidak terlintas di dalam pikirannya sama sekali. Lantas apakah yang dilakukan ‘Aisyah untuk menghadapi dua persoalan tersebut? Sadar Bahwa Tengah Menghadapi Masalah Harus diketahui bahwa sebuah persoalan tidak akan berarti jika orang yang tertimpa atau memiliki hubungan dengan persoalan tersebut tidak menyadarinya. Begitu pun dengan ‘Aisyah, ia sadar betul akan adanya masalah yang sedang dihadapi. Ketika kembali dari mencari kalung yang hilang dan mendapati rombongan pasukan sudah pergi meninggalkannya, ‘Aisyah sadar kalau ia sedang dalam masalah. Ini persoalan pertama. Sedangkan terhadap persoalan kedua, dimana ia dituduh melakukan zina, ‘Aisyah segera merasa kalau sedang ada masalah ketika diberitahu Ummu Misthah tentang isu yang sedang beredar di masyarakat. Pada awalnya ‘Aisyah tidak merasakan hal itu. Maka ia heran atas celaan Ummu Misthah terhadap anaknya, dan ia pun membelanya karena Misthah termasuk salah satu sahabat yang ikut dalam perang badar. Menjaga Emosi dan Tetap Tegar Ibunda kita ‘Aisyah mampu menahan emosinya di saat menghadapi persoalan yang menimpanya. Padahal situasi yang ia alami kala itu sangat mencekam. Tertinggal sendirian oleh rombongan pasukan di medan perang. Dan ia pun tetap dapat mengontrol dirinya ketika mendengar isu yang sesungguhnya dapat membuatnya tertekan. Tentu saja ‘Aisyah kaget dan limbung atas isu-isu yang tersebar luas menyangkut dirinya. Namun meskipun begitu, ‘Aisyah tetap sabar karena mengingat firman Allah, “Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (buatku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf [12]:18) Ketegaran hati yang dimiliki ‘Aisyah tercermin dengan selalu memohon perlindungan Allah melalui doa, shalat, zikir, berbaik sangka kepada Allah dan umat muslim yang terkait dengan isu tentang dirinya, serta mengharap datangnya kebaikan. Sisi keimanan secara umum juga sangat berpengaruh dalam hal ini, sehingga keimanan harus tetap dijaga pada setiap fase penyelesaian masalah. Semua inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah. Meskipun isu-isu itu mampu membuat ‘Aisyah terpukul, tapi ia tetap tidak kehilangan akal sehat
. Terhadap persoalan pertama, ‘Aisyah menyimpulkan kalau rombongan pasukan memang sudah meninggalkannya, dan ia tertinggal sendirian. Hal ini membuat ‘Aisyah mengkhawatirkan diri sendiri kalau sampai meninggal dunia, mendapat musibah, atau mengalami tindak kekerasan. Sedangkan terhadap persoalan kedua, ‘Aisyah sudah menyimpulkan dan mengetahuinya. Isu yang beredar saat itu adalah ia dituduh berbuat zina. ‘Aisyah sudah memikirkan tuduhan tersebut dan konsekuensi yang mungkin timbul karenanya. Memikirkan Solusi ‘Aisyah memikirkan solusi yang mungkin berguna untuk menyelesaikan persoalannya. Yang terbersit dalam benak ‘Aisyah waktu itu adalah sejumlah hal berikut: 1.Menyusul rombongan pasukan. Tapi ia tidak memiliki kendaraan, sedang malam sudah gelap dan ia pun rasanya tidak mungkin berjalan sendirian 2.Tetap berada di tempat semula sambil bersembunyi 3.Pergi ke tempat lain 4.Menunggu di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian mereka akan kembali lagi ke tempat itu. Sebab apabila rombongan tahu kalau ia tidak ada, tentu mereka akan segera kembali ke tempat semula untuk mencari. 5.Mencari seseorang yang mungkin tertinggal dari rombongan seperti yang ia alami, atau menunggu seseorang yang mengikuti rombongan pasukan dari jauh. Sedangkan terhadap persoalan kedua, yang terbersit pada benak ‘Aisyah adalah; 1.Membela diri 2.Menyerahkan hal itu kepada Rasul, sementara ia tetap berada di rumahnya. Namun sepertinya ‘Aisyah melihat kalau Rasulullah terpengaruh dengan isu tersebut, di samping isunya sudah menyebar luas di masyarakat 3.Pulang ke rumah bapak ibunya, bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah 4.Menerapkan solusi paling tepat di antara solusi-solusi yang ada Solusi ‘Aisyah memilih untuk tetap berada di tempat semula dengan harapan rombongan pasukan atau sebagian dari mereka kembali lagi untuk menjemput. Benar saja, Shafwan datang. Waktu itu, ‘Aisyah menyangka kalau Shafwan memang diutus rombongan untuk menjemputnya. Oleh karena itu, ‘Aisyah langsung menaiki unta Shafwan tanpa berbicara sedikit pun. Dan karena anggapan seperti ini juga, ‘Aisyah tidak pernah terbetik dalam pikirannya bakal ada isu-isu miring tentang dirinya. Sebab ia menyangka bahwa Shafwan memang diutus rombongan untuk mencari dan membawanya menyusul rombongan. Sedangkan mengenai masalah tuduhan zina, ‘Aisyah meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumah keluarganya. Sebab persoalan ini butuh kejelasan lebih lanjut selagi belum turun wahyu yang menjelaskannya. Selain itu, menghadapi persoalan semacam ini juga butuh kepala dingin agar bisa berpikir tenang. Kepulangan ‘Aisyah ke rumah orangtuanya mengandung banyak himah dan kecerdikan. Oleh karena itu, Rasul pun segera memenuhi keinginan ‘Aisyah tersebut.
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Ketika Anak yang Sholeh lupa Berdo'a


Ketika Anak yang Sholeh lupa Berdo'a




 




Ingat maupun tidak, tapi hadist mengenai anak soleh akan mendoakan orangtua, atau anak yang soleh doanya dikabulkan dan akan menolong orangtua ketika di akhirat kelak sangat familiar ditelinga bu Nisa. Orang tua mana yang tidak mau punya anak yang soleh, segala cara terus dilakukan untuk mendapatkan anak yang soleh. Baik menyekolahkan ditempat yang mahal, yang agamanya bagus, sampai mengantar jauh keluar kota untuk mendapatkan anak yang soleh. Ya,anak yang soleh harus diupayakan dan sudah merupakan kewajiban orangtua untuk men-solehan anaknya dengan cara yang benar. Belajarlah anak yang soleh ini, dengan segenap kemampuannya, tawa riangnya membuat dia mampu atau tidak mampu menjadi anak yang soleh. Ada anak yang sebentar saja langsung menjadi soleh, ada anak yang lama sekali baru soleh, ada juga anak yang dipukulin dulu baru soleh. Ada juga anak yang setelah ibu atau ayahnya meninggal baru soleh, memyesal dan teringat semua kata-kata dan nasehat orang tua-nya ketik masih hidup. Selain itu, ada juga anak yang sama sekali tidak soleh, atau gagal menjadi anak yang soleh, bahkan mental dan membenci semua yang berbau Islam, berbau agama, naudzubillhmindzalika. Orangtua memang harus lelah untuk menjadikan anaknya soleh, bahkan bagi oangtua yang sudah bersusah payah menjadikan anaknya soleh; berdoa setia malam, dan mendatangkan guru dan ustad untuk mengajari anaknya dengan harapan dapat mensolehkan anaknya. Namun, ternyata anak soleh tidak kunjung juga didapatkan, jangan bersedih hati, percayalah Allah tidak tidur. Panci yang dipakai untuk masak rendang berhari-hari, tentu saja dasar panci akan mengeras dan berwarna hitam, walau akhirnya dipakai untuk sup sekalipun, sang panci tetap berwarna hitam bekas rendang. Maka walau anak yang soleh pada akhirnya tidak sesoleh yang diinginkan, semua pelajaran dan pendidikan untuk mensolehkan anak itu, tetap membekas dalam lubuk hatinya dalam pikirannya, dalam bawah sadarnya. Gerakan sholat yang pernah diajarkan, setiap kebaikan yang selalu dibisikkan, keinginan berbuat baik, ilmu-ilmu tersebut sudah tertanam dan membekas dalam dirinya! Hanya saja lingkungan yang akan mempengaruhinya, bila lingkungan buruk dan kurang nuansa agama, maka akan membuat sang anak tetap soleh dengan versi berbeda. Misal; anak yang dulunya dipesantren lalu menjadi artis sinetron atau penyanyi, maka lagu-lagu yang dibawakan masih religius, tidak liar juga, walau Iingkungannya adalah lingkungan perfileman/entertainment. Namun, keinginan untuk menjadi orang baik dalam lingkungan tersebut tetap ada, masih ada rambu- rambu dalam dirinya. Tidak ada kata sia-sia dalam mendidik anak yang soleh, yang sia sia adalah bila tidak mendidik.


Hanya saja yang suka lupa didengungkan para guru dan orangtua terhadap anaknya adalah menanamkan kebiasaan mendoakan orangtua, bukan dengan doa yang rutin; Rabbighfir lii waliwaa lidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa.” Namun, doa yang betul-betul untuk orang tua yang dihayati dan dipahami, dan menanamkan betapa pentingnya arti doa kita bagi orangtua. Doa anak yang soleh bukan doa anak biasa, pertama soleh dulu, kedua adab berdoa dan pentingnya doa tersebut, kalau perrlu sebuah sekolah bagus juga bila mengadakan rutinitas pagi berupa doa bagi orangtua, dimana anak-anak diajarkan dulu menulis dan berpikir doa apa yang sebaiknya dilantunkan buat orangtua. Tiga hari lagi bu Nisa ulang tahun, dan yang dipikirkannya bukan hadiah dari anak-anak berupa kado ini atau kado itu, tetapi berupa doa yang sudah disiapkn anak-anak sejak minggu lalu, doa yang berkualitas bukan doa yang dihafal beramai-ramai didalam kelas. Doa spesifik yang hanya anak kita lantunkan untuk orang tua tersayangnya.
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Kamis, 14 Februari 2013

Manfaat Berkumur Setelah Minum SUSU


Manfaat Berkumur Setelah Minum SUSU




  عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرِبَ لَبَنًا فَدَعَا بِمَاءٍ
 فَمَضْمَضَ وَقَالَ إِنَّ لَهُ دَسَمًا



 Dari Ibnu Abbas berkata; “Nabi ﷺ minum susu, lalu beliau minta diambilkan air seraya berkumur dengan air tersebut, setelah itu beliau bersabda: “Sesungguhnya pada susu itu ada lemaknya.” Syaikh Abu Abdillah Al-Maqdisi menyebutkan bahwasannya disunnahkan berkumur sesudah minum susu. Ini dinyatakan di dalam kitab Ar-Ri’ayah. Karena Nabi ﷺ pernah berkumur dengan air sesudah minum susu. Beliau pernah bersabda, “Susu itu mengandung lemak.” Dan beliau pernah meminum susu yang dicampur dengan air. Keterangan ini tercantum di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sebagian ulama lain yang bersahabat dengan Syaikh Al-Maqdisi menyebutkan seperti yang disebutkan oleh sebagian tabib (dokter), bahwa terlalu banyak minum susu dapat merusak gigi dan gusi. Oleh karena itu sebaiknya berkumur dengan air sesudah minum susu. Kemudian ia menyebutkan hadits yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ pernah berkumur (sesudah minum susu) dan bersabda, “Susu itu mengandung lemak.” Syaikh Al-Maqdisi juga mengungkapkan bahwa kalangan dokter klasik merekomendasikan sesudah minum susu sebaiknya berkumur dengan madu untuk melindungi gusi dari kerusakan. Dan sangat beralasan bila dianjurkan berkumur sesudah mengkonsumsi sesuatu yang berlemak, karena Nabi ﷺ menjadikan lemak itu sebagai alasan berkumur. Sedangkan berkumur sesudah mengkonsumsi sesuatu yang tidak berlemak perlu dikaji lebih dalam. Namun hadits tersebut secara eksplisit menunjukkan bahwa hal itu tidak dianjurkan. Sahal bin Sa’ad meriwayatkan hadits marfu’ yang menyatakan, “Berkumurlah kamu sesudah minum susu, karena susu itu mengandung lemak.” Sedangkan Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha meriwayatkan hadits marfu’ yang menyatakan, “Jika kamu minum susu, maka berkumurlah, karena susu itu mengandung lemak.” Abu Zakariya An-Nawawi Rahimahullah menyatakan, “Para ulama mengatakan bahwa berkumur (juga) dianjurkan sesudah mengkonsumsi selain susu, baik makanan maupun minuman. Tujuannya agar tidak ada sisa-sisa yang bisa tertelan pada waktu solat. Juga untuk menghilangkan lendir-lendir dan lemaknya, serta membersihkan mulutnya.” Begitu katanya. Namun Nabi ﷺ pernah makan daging dan lain-lain kemudian shalat tanpa berkumur terlebih dahulu. Sementara Syaikh Ibnu Qayyim mengatakan bahwasannya Unta mengandung energi yang kurang baik, oleh sebab itu Rasulullah ﷺ menyuruh kita berwudhu setelah memakan daging unta dalam dua hadits shahih, tidak ada hadits yang bertentangan dengan kedua hadits itu. Ibnu Qayyim juga menyebutkan bahwasannya Rasulullah ﷺ membedakan antara daging unta dengan daging kambing. Bila memakan daging kambing, boleh berwudhu, boleh juga tidak, silahkan pilih. Kajian lebih mendalam diungkapkan oleh Dr. Iftachul’ain Hambali, Sp., THT, mengenai manfaat berkumur setelah minum susu dalam bukunya Islamic Pineal Therapy. Dr. Iftachul’ain menyatakan bahwa di dalam susu terdapat kandungan zat kapur (Ca) yang cukup tinggi. Timbunan zat ini dapat menyebabkan pembentukan karang gigi yang dapat mengakibatkan gusi mudah berdarah dan terjadi infeksi. Selain itu, susu juga mengandung protein yang dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri bila tertimbun di rongga mulut atau celah gigi. Oleh karenanya Dr. Iftachul’ain menganjurkan setelah minum susu, agar membersihkan mulut atau berkumur.
»»  BACA SELENGKAPNYA...

Rabu, 13 Februari 2013








Apel Itu Haram !! Siapa Lebih Dewasa Akalnya?




 



Suatu waktu, seorang anak kecil yang umurnya tidak lebih dari sembilan tahun memasuki masjid dan menunaikan sholat. Aku yang ketika itu sedang melaksanakan sholat Tahiyatul masjid, mencium bau rokok menyengat yang mengganggu kekhusyu’anku. Selepas salam, kudapati seorang lelaki yang bibirnya telah menghitam karena rokok. Aku berkata dalam hati,”tunggu sampai kau selesai sholat kemudian aku akan berbicara dan menasehatimu.” Akan tetapi, tiba-tiba si anak kecil duduk di samping lelaki tadi dan terjadilah dialog antara keduanya. Anak kecil (AK) : “Assalamualaikum wahai paman, engkau dari mesir?” Lelaki (L) : “Ya, aku dari mesir.” AK : “Apa kau tahu Syekh Abdul Hamid Kasyk?” L : “Ya, aku tahu.” AK : “Dan Syekh Jaadul Haq?” L : “Ya, aku tahu.” AK : “Juga syekh Muhammad Alghozali?” L : “Ya, aku tahu beliau.” AK : “Sudahkah kau mendengar rekaman dan fatwa mereka?” L : “Ya.” Ak : “Baiklah, semua Ulama dan Masyayikh tadi berkata bahwa rokok itu haram, apakah engkau merokok?” L : “(masih kebingungan) rokok? Kenapa diharamkan?” AK : “Ya haram, bukankah Allah Ta’ala berfirman (وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ) dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka. Apakah jika ingin merokok engkau mengucap Bismillah dan jika selesai mengucap Alhamdulillah? L : “(tetap dengan pendiriannya) tidak, aku ingin ayat dari Al qur’an yang mengatakan, (ويحرم عليكم الدخان) dan mengharamkan atas kamu rokok.” AK : “Wahai paman, rokok itu haram sebagaimana apel itu haram!” L : “(berkata dengan marah) Apel haram!!! Hai bocah, atas dasar apa kamu menghalalkan dan mengharamkan!!! Ak : “Tunjukan padaku ayat yang berkata, (ويحل لكم التفاح) dan dihalalkan bagimu apel !!” Lelaki tadi bingung dan diam tidak bisa berkata apapun, meledaklah tangisnya. Hingga iqomat dikumandangkan dia masih saja menangis. Selesai sholat lelaki tadi menoleh dan berkata kepada si anak kecil: “lihatlah wahai anakku, aku bersumpang dengan nama Allah yang Maha besar, aku tidak akan merokok lagi sepanjang hidupku.” Maka, siapakah yang lebih dewasa akalnya? *diterjemahkan dari artikel berjudul ‘man al-zka,man al-ahmaq, man al-majnun’ oleh Syekh Abu Muslim Walid barjas.
»»  BACA SELENGKAPNYA...