Sabtu, 01 Desember 2012
Nikmatya Hidup dalam AQuarium
Nikmatnya hidup dalam aquarium
Seekor ikan yang hidup dalam aquarium tidak akan pernah punya niat untuk meninggalkannya walau seindah apapun alam luar yang bisa dilihatnya dari kaca aquariumnya. Ini karena sang ikan menganggap aquariumnya adalah tempat paling sempurna di dunia.
Dalam ilmu manajemen modern, kisah ikan dalam aquarium digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang terlalu lama hidup dalam satu organisasi sehingga tidak bisa melihat kelemahan yang ada dalam organisasinya. ia menganggapnya sebagai tempat yang sempurna.
Jika sikap merasa berada di tempat yang sempurna ini terus dipelihara maka ia menimbulkan fanatisme, taklid dan pegangan abadi. Padahal tidak satupun di dunia ini yang pantas untuk dijadikan untuk difanatiskan kecuali AGAMA.
Lihatlah anak-anak SD, SMP, SMA dan bahkan yang sudah di universitas yang suka tawuran, itu karena menganggap sekolah sebagai tempat terbaik dan marah bila tempat sekolahnya diusik.....mereka seperti ikan dalam aquarium
Lihatlah para pendukung caleg dan partai, mereka rela mengorbankan nyawa dan mempergunakan ayat-ayat suci ketika apa yang cintai mendapat kritikan karena berbuat menyimpang
Lihatlah para pejabat yang merasa sebagai manusia terbaik, sehingga tiap kritikan dianggap sebagai ancaman terhadap kekuasaannya. mereka bahkan berusaha menghentikan sebelum kritik itu terjadi.
Alquran sendiri jauh-jauh hari sudah memperingatkan manusia agar tidak fanatisme berlebihan pada sesuatu, tidak membela keluarga yang dicintai ketika mereka berada di jalan yang keliru, tidak mengagungkan satu ras atau ras lain, tidak mencintai keluarganya diatas cinta kepada Allah, tidak menomorsatukan kerja dunia atas ibadah agama. Tentu semua yang saya tulis ini semua kita sudah tahu, tapi belum tentu dalam pelaksanaannya ketika anda berada dalam aquarium.
seorang pelatih atau pemain sepakbola tidak akan pernah bisa memberikan penilaian yang adil tentang sebuah pertandingan yang ia ikuti. Demikian juga bila kita berada dalam kubu salah satu pihak yang berseteru, kita tidak akan selalu kesulitan melihat dengan adil. Itulah sebabnya seorang komentator atau kritikus harus berada pada posisi netral. Demikian juga mengapa para ulama diminta agar tidak mendatangi umaro, ini untuk menjaga sikap netralnya antara mensupport pemimpin atau mensupport rakyat.
Namun jangankan muslim biasa, seorang ustad, ulama, bahkan ulama senior kelas dunia pun terkadang masih terjebak dalam nikmatnya aquarium.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar